Sabtu, 29 November 2014

Temukan Bukti Kebenaran Al-Quran, Mr. Costeau Masuk Islam

MASIH ingatkah Anda dengan ilmuan yang satu ini? Ya, dialah Mr. Jacques Yves Costeau, seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba Costeau menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur atau tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya. Sehingga seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim dan menceritakan fenomena ganjil itu kepadanya. Profesor tersebut lalu teringat ayat al-Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez.

Ayat itu berbunyi, “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.”

Kemudian dibacakan surat al-Furqan ayat 53, “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.”

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat al-Quran itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al-Qur’an ini mustahil disusun oleh Nabi Muhammad SAW yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman ketika belum ada peralatan menyelam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera.

Benar-benar suatu mukjizat, berita mengenai fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad ke 20. Mr. Costeau lalu berkata bahwa, al-Quran sesungguhnya memang kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.

Jumat, 26 Juli 2013

(Qur'an 55:19-20)

Modern Science has discovered that in the places where two different seas meet, there is a barrier between them. This barrier divides the two seas so that each sea has its own temperature, salinity, and density. 
(Principles of Oceanography - Davis, pp. 92-93)

For example, Mediterranean sea water is warm, saline and less dense, compared to Atlantic ocean water. When Mediterranean sea water enters the Atlantic over the Gibraltar sill, it moves several hundred kilometers into the Atlantic at a depth of about 1,000 meters with its own warm, saline and less dense characteristics. The Mediterranean water stabilizes at this depth (Principles of Oceanography p. 93).
The Mediterranean sea water as it enters the Atlantic over the Gibraltar sill with its own warm, saline and less dense characteristics, because of the barrier that distinguishes between them. Temperatures are in degrees Celsius (C).

Even in depths (indicated here by darker colors) up to 1,400 meters and at distances ranging from a minus -100 to +2,500 meters, we find that both bodies of water maintain their individual temperatures and salinity. 
Although there are large waves, strong currents, and tides in these seas, they do not mix or transgress this barrier.

The Holy Qur'an mentioned that there is a barrier between two seas that meet and that they do not transgress. God said: 

{He has let free the two seas meeting to gather. There is a barrier between them. They do not transgress.} (Qur'an 55:19-20) 

But when the Qur'an speaks about the divider between fresh and salt water, it mentions the existence of "a forbidding partition" with the barrier. God said in the Qur'an: 

{He is the one who has let free the two bodies of flowing water, one sweet and palatable, and the other salty and bitter. And He has made between them a barrier and a forbidding partition.} (Qur'an 25:53

On may ask, why did the Qur'an mention the partition when speaking about the divider between fresh and salt water, but did not mention it when speaking about the divider between the two seas? 
Modern science has discovered that in estuaries, where fresh (sweet) and salt water meet, the situation is somewhat different from what is found in places where two seas meet. It has been discovered that what distinguishes fresh water from salt water in estuaries is a "pycnocline zone with a marked density discontinuity separating the two layers." (Oceanography p. 242)

This partition (zone of separation) has a different salinity from the fresh water and from the salt water (Oceanography p. 244 and Introductory Oceanography pp. 300-301) 

This information has been discovered only recently using advanced equipment to measure temperature, salinity, density, oxygen dissolubility, etc. The human eye cannot see the difference between the two seas that meet, rather the two seas appear to us as one homogeneous sea. Likewise the human eye cannot see the division of water in estuaries into the three kinds: the fresh water, the salt water, the partition (zone of separation).

Selasa, 29 Desember 2009

"J. Cousteau Agrees With Quran

SubhanAllah... itulah ilmu pngetahuan yg sudah ditulis dlm Alquran jauh sbelum manusia menemukan nya...Jacques Cousteau Komandan AL prancis dan Oceanolog & Pionir film Dokumenter bawah laut mengakui apa yg tertulis di dalam Quran (subhanAllah) bahkan ada kabar yg menyatakan ia menjadi seorang muslim di akhir hidup nya karena takjub akan ayat2 tersebut, dikarenakan ia seorang ahli kelautan, dan ia yakin Alquran bukan buatan manusia, karena sangat tidak mungkin ilmu trsebut ada ratusan tahun yg lalu


Dua Air bertemu




sungai-sungai ini mengalir bersama-sama dan kejadian alam ini diketahui pada abad ke 20. dimana Allah SWT menyebutkan kejadian alam dua sungai ini dalam Al-Quran sekitar 1400 tahun yang lalu

Dua sungai ini mengalir secara bersama-sama dan sampai di lautan, rasa air dari salah satu sungai ini terasa tawar) dan di lain sungai terasa sangat berlawanan (asin) tapi keduanya tidak pernah bercampur. tidak ada di antara sungai-sungai ini yang berhenti akibat bercampur satu sama lain melainkan kehendak dan kuasa Allah SWT

Meskipun ombak besar, arus yang kuat, dan laut pasang, keduanya tidak bercampur atau melampaui penghalang ini

Alquran menyebutkan bahwa ada penghalang di antara dua laut yang bertemu dan keduanya tidak melampaui. Firman-Nya

"Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.
(Al Qur'an, 25:53)

"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing." (Al Qur'an, 55:19-20)

Ilmu pengetahuan modern telah menemukan bahwa ditempat-tempat dimana dua laut berbeda bertemu, ada sebuah pengalang diantaranya. pengahalang ini memisahkan keduanya sehingga setiap laut memiliki temperatur, kadar garam, dan kepadatannya masing-masing. sebagai contoh air laut mediterranena terasa hangat, asin, dan ringan. Ketika air laut mediterranean memasuki benua Atlantik melewati ambang Gibraltar, air ini bergerak beberapa ratus kilometer memasuki kedalaman benua Atlantik sekitar 1000 meter dengan karakteristik air yang hangat, asin dan kepadatan yang ringan juga